residen F

Alhamdulillah….

Enam bulan sudah saya menjalani profesi baru yaitu sebagai dek koas atau mbak koas :”)

Sejujurnya menyenangkan sekali menjalani hari-hari sebagai koas, deg-degan tiap hari, seneng-seneng tiap hari, siklus berantem-beda pendapat-main bareng lagi, capek sih pasti ada tapi selalu lebih bersyukur jadi dek koas bila dibandingkan dengan kehidupan dokter residen. mereka lebih lelah sekali hidupnya, menanggung keluarga dan tanggung jawab menuntut ilmu sekaligus nyawa pasien bahkan (beban koas kuadrat sekian). Maka dari itu, dokter dokter senior residen itu selalu saya kagumi, dari yang mulai biasa banget, sampai yang luar biasa. Dari mulai yang sangat tidak idealis sampai yang sangat inspiratif.

Contohnya di stase anestesi ini saya bertemu residen anestesi yang super baik dan amanah. Belum pernah saya lihat ada residen anestesi yang begitu perhatian dengan pasiennya selayaknya residen penyakit dalam. Saya belajar banyak dari dokter F ini, residen anestesi ini menemani kelompok kami di RSUD Banyumas. Walaupun hanya 3 hari, Alhamdulillah saya bisa belajar banyak darinya. Dari mulai cara dan teknik intubasi, materi fisiologi hingga materi spiritual yang insyaAllah berkah. Dokter F ini cukup menginspiratif terutama kisahnya yang menikah muda di usia 21 tahun (tetep aja jodoh omongannya). Intinya sih Allah akan selalu memberi jalan, memberi rezeki kepada seluruh hambaNya yang berusaha. Ya kayak dokter F ini, walaupun kedua orang tuanya dokter, sejak kuliah dia sudah mandiri untuk biaya hidupnya, dia berjualan kue, donat dan barang lainnya yang bisa menghasilkan uang. Uang itu sebagian besar dia tabung, untuk persiapan menikah, menanggung nafkah keluarga, dan melanjutkan pendidikan spesialisnya.

SEMANGAT! Itu yang beliau ajarkan setiap harinya….

Pernah suatu ketika, saya sedang diajarkan teknik open airway ‘jaw thrust’ dengan mengekstensikan kepala dan mengangkat rahang bawah. Saya tidak menyangka rasanya akan semelelahkan itu, ternyata rahang manusia khususnya laki-laki tidak ringan ditambah tangan saya yang masih kaku, hasilnya teknik open airway saya masih terlalu cupu, huftness.

Disaat-saat kelelahan dan mengeluh itulah titik terendah manusia, saat saya menunjukkan lelah itu, sang residen langsung berkata

“ayo dong semangat sonia, udah bagus itu, jangan mengeluh, semangat! ayo ini amanah lho…”

Kalimat itu…. insyaAllah akan selalu diingat.

Walau masih saja sering mengeluh, namun saya berusaha untuk tidak larut dan selalu mengingat kalimat itu. Karena Muslim tidak boleh mengeluh, tidak pantas disaat ada Allah yang selalu menguatkan :”)

*noted dokter F, terimakasih atas petuah petuah spiritualnya*

Advertisements

About Sonia

I am what i think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: