#6sebuahkisah

Rapat sore itu cukup berkesan untukku. Ya, disini aku berkumpul mempersiapkan terbentuknya sebuah perpustakaan anak di sudut kota. Dengan meminjam bangunan warung tua milik temanku, kebetulan dia sudah tidak berjualan lagi disana, aku dan timku mempersiapkan ini. Perpustakaan untuk anak-anak dengan buku berbagai bahasa dan adanya kursus bahasa inggris setiap hari Jum’at. Harapanku tempat itu bermanfaat untuk mengisi waktu luang anak-anak SD sekitar daerah Bulaksumur. Tempat untuk mereka meluangkan waktu membaca, tempat untuk belajar. Mereka anak-anak yang istimewa, mereka menyenangkan dengan caranya sendiri.

Disini, aku dan teman-temanku berkumpul dengan beberapa perwakilan anak dari SD sekitar untuk membahas buku-buku yang biasa mereka baca. Anak-anak itu banyak bercerita dan aku menyukainya. Aku berharap bisa menjadi pendengar yang baik bagi mereka.

‘Kak Kei, nanti diperpustakaan banyakin buku-buku bergambar ya kaa, terus yang bahasa inggris, ya kaaa’ pinta gadis cilik itu padaku. Aku tersenyum.

Diruangan itu ada aku dan timku, Ojan, Fira, Laras dan Revi si anak magang. Belum lama aku mengenal Revi, belum bisa aku menilainya. Dia biasa saja, hanya terkadang aku merasa ada sesuatu yang menarik darinya, tapi entahlah.

Sedikit aku memperhatikan timku, aku memperhatikan mereka bekerja, berpikir, dan kepedulian mereka terhadap anak-anak itu. Dan Revi memang yang paling berbeda. Aku tidak sepenuhnya yakin dia bisa bekerjasama dalam proyek ini, namun tidak ada pilihan pada akhirnya. Aku melihat Revi tidak banyak berbicara, namun anak-anak itu nampak menyukainya. Ya, Revi apa adanya dan saat itu juga dia mengingatkanku padanya, Utara.

‘Dek, kamu pernah main apa? Main yuk’ tanya Revi pada anak laki-laki disebelahnya.

‘Bola kak, ayo main bolaaaa’

Aku melihat Revi bermain dengan cara berbeda. Disaat yang lain sibuk mencari perhatian anak-anak itu, Revi memilih menjadi bagian dari mereka, Revi seperti anak-anak disana. Dan Utara, dia selalu melakukan hal yang sama.

‘Kei gue boleh main sama mereka kan?’

‘Rev, wawancaranya?’

‘Tenang aja sih, pasti beres nanti’

Aku diam, tanpa penolakkan. Kemudian melihat Revi sudah menendang bola, memberikan operan kecil ke anak laki-laki tadi. Aku menutup mata sejenak, Utara, lagi-lagi dia.

Astaghfirullah, aku memohon perlindunganMu.

Dan kemudian aku titipkan rindu ini padaMu, ya Rabb. 

Advertisements

About Sonia

I am what i think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: