#5sebuahkisah

Aku mulai bersiap menuju mobilku, aku harus bertemu kakakku, Mas Revan,  di perpustakaan pusat kota. Aku tidak pernah suka berlama-lama dikampus, rumah adalah tempat terbaik untukku. Dan bertemu orang-orang terdekatku adalah hal wajib setiap harinya.

 

’Rev, hari ini kuliahmu sampai jam 10 doang?’ tanya Mas Revan.

’Yoi brooo. Langsung cabut kesini. Gimana mas? Jadi kita futsal sama anak-anak?’

’Pinginnya rev, tapi gue harus ketemu temen gue dulu nih, ada bisnis sedikit’

’Dimana mas? Lah tadi lo suruh gue kesini?’

’Bentar doang kok, janjian disini. Dia satu kampus sama lo juga kali, cewek.’

’Oh, oke’

Bagiku  mau orang itu satu kampus atau bukan, kemungkinan besar aku tidak mengenalnya. Yah, aku memang bukan orang yang suka bersosialisai, tapi bukan berarti anti sosial. Hanya saja, aku tidak merasa punya kewajiban untuk mengenal suluruh teman-teman satu kampus. 

Dan sekarang disinilah aku menunggu seseorang bersama mas Revan. Tidak ada harapan khusus siapa yang akan aku jumpai, aku hanya berharap tidak mengenalnya, dan tidak harus mengenal orang itu. Lima menit menunggu dan dia datang, wanita yang sama, dan entah kenapa aku masih ingat namanya, Keisha.

‘Maaf mas revan, terlambat yaa’ ucap Keisha.

‘Baru lima menit kok Kei, santai, eh iya kenalin ini adek gue Revi’

aku diam, baiklah kali ini harus benar-benar kenal dia. 

‘Hei Revi, kita pernah ketemu kan?’

‘Oh iya, halo’ jawabku.

Keisha duduk didepanku dia mulai mengeluarkan bukunya, dan tepat saja dia langsung membicarakan masalah inti dengan Mas Revan. Thanks Lord, i’m saved.

‘Oke segitu aja sih mas, semoga desain nya bisa jadi tepat waktu. Proyek ini cukup besar dan cukup diminati, harapannya tidak akan mengecewakan konsumen setia hehehe’

‘Siap Kei, tenang. Jadi deadline dua minggu lagi ya, okehhh’

‘Yoi Mas Rev, semangat bos’ Keisha tersenyum sambil mengepalkan tangan dan mengarahkan ke atas. ‘kalau gitu gue langsung aja ya Mas Rev, masih ada janji lagi’

‘Sibuk bener sih Kei, hati-hati bu’

‘Hahahaa, sok sibuk aja sih Mas sebenarnya, duluan ya Mas Revan, Revi’ sapa Keisha sambil undur diri.

‘Yoo’  jawabku singkat. Dan Keisha pergi. Aku tidak peduli. Bagiku, Keisha sama seperti yang lain. Dia hanya datang dan pergi. Bukan seseorang yang harus aku pikirkan. Ditambah lagi dia aktivis, apa enaknya sih punya banyak hal yang harus di urusin? Apa dia punya waktu untuk memikirkan hal-hal? Apa dia tidak pernah lelah ya?

Kemudian tanpa sadar pertanyaan-pertanyaan hadir dibenakku, tentang dia. Tentang seseorang yang seperti Keisha, atau ini karena dia Keisha. Aku tidak peduli lagi. Hanya saja, pertanyaan itu terus bermunculan.

Baiklah, aku harus berhenti. Coba pikirkan hal lain saja….

Aku berusaha, walau akhirnya hal-hal itu kembali lagi.

 

 

Advertisements

About Sonia

I am what i think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: