#2sebuahkisah

Ponsel Keisha, berdering, dari Raga.

‘Assalamu’alaikum’

‘Waalaikumsalam, kei kei keishaaa’

‘Iya kenapa?’

‘Ini dicariin Tara’

‘Hah Yara?’

‘Halo halooo’

‘Halo ini siapa?’

‘Ini Tara, Kei…’

saat itu aku merasakan dekup jantungku, kencang dan cepat. aku mungkin sempat terdiam beberapa saat sampai suara Utara memanggil lagi.

‘iya Tara, kenapa?’

‘Lo dimana Kei? kok nggak dateng buka puasa bersama’

‘Eh iya, maaf tara maaf banget gue udah ada janji duluan, maaf ya nggak bisa dateng’

‘Yaah Keisha’

‘Iya maaf ya, Tar’

‘Yaudah kapan-kapan ketemu yaa, Assalammu’alaikum’

‘Wa’alaikumussalam’  jawabku cepat. Kututup telepon dan mematikannya. Aku terdiam sejenak.

Iya, sebenarnya bukan salah janji aku tidak bisa bertemu Utara hari itu. Aku tahu aku akan bertemu dengan Utara di acara itu, dan kemudian aku sendiri yang membuat janji itu ada. Ku coba merekam ulang, dan benar,  aku takut bertemu Utara. Aku belum siap  nampaknya. Entah untuk apa, hanya saja aku merasa ini bukan saatnya.

Naluri itu terkadang benar namun sering juga berlebihan. Mungkin salah satunya naluriku hari itu.

‘1 year we haven’t meet yet, and I decide to make it longer. Just meet in our destiny, right time right place’

tweet ku sore itu. sebelum ku terima telepon dari Utara.

dan entah apa rencanaNya. hari itu berjalan dengan aku mendengar suara Utara.

bukan sesuatu yang diharapkan, namun seperti sedikit ada keajaiban disana, membuatku ingin segera berdoa kepadaNya.

Advertisements

About Sonia

I am what i think.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: